Baru-baru ini saya mendapat email dari Nurul, seorang pembaca blog ini yang juga mahasiswa jurusan tekhnologi pendidikan dan sekarang aktif membina sebuah radio komunitas di sebuah SMP di Sidoarjo. Kasus yang dihadapi Nurul dalam mengelola radio komunitas sangat kompleks, mulai dari SDM yang tidak ada keterikatan kerja hingga bagaimana menciptakan program yang menarik.
Agar bisa lebih mendatangkan manfaat bagi banyak orang, saya sudah mendapatkan ijin dari Nurul untuk membuat posting mengenai kasus ini. Diharapkan bisa bermanfaat dan mendatangkan lebih banyak masukan dari pembaca yang lain. Berikut ini, adalah cuplikan email yang Nurul kirimkan:
“…Nama radionya SPY (Suara Pendengar Yapalis) 107.7FM di kota Krian-Sidoarjo JATIM. Baru berdiri bulan maret 2008. Secara teknis/peralatan (sofware/hardware) radio tidak ada masalah, bisa dikatakan cukup standart. Yang menjadi kendala, di sekolahan tersebut tidak tersedia SDM dalam mengolah radio dalam hal program siarannya dan penyiar.
Sekarang yang berjalan hanya siaran musik aja: penyiarnya siswa situ sendiri, lagunya hanya pop indonesia, request dan kirim2 salam aja, via sms. Begitu terus sampai sekarang. Dan hanya siaran kalau ada siswa yang bersedia siaran.
Saya sempat bertanya pada guru/orang yang bertanggung jawab dengan keberadaan radio tersebut. Kata beliau, radio tersebut digunakan sebagai radio komunitas bukan radio murni untuk pendidikan.
…Karena radio SPY nantinya dijadikan radio komunitas bukan radio pendidikan, maka rencana saya, saya akan memasukkan unsur pendidikannya dalam program siarannya…”
Untuk membuat sebuah program radio komunitas, sebenarnya sama seperti saat kita menciptakan sebuah acara radio komersial pada umumnya:
- Lakukan penelitian untuk mengetahui apa yang disukai dan diinginkan oleh target pendengar kita
- Harus disadari bahwa kebutuhan dasar dari pendengar dalam mendengarkan sebuah acara radio adalah hiburan / lagu. Dengan demikian, jika kita tidak memposisikan radio kita sebagai radio berita, sebaiknya kurangi waktu bicara dan perbanyak komposisi hiburan / musik. Seandainya harus ada materi kata / bicara, usahakan dikemas dalam bentuk yang tetap menghibur
- Usahakan untuk tidak menyajikan acara yang isinya atau informasinya sudah diketahui oleh sebagian besar pendengar kita. Hal ini menjadi penting agar radio kita tidak dianggap basi dan agar pendengar selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari radio kita. Dengan begitu, radio kita akan menjadi bermanfaat bagi pendengar kita.
- Perhatikan konsistensi dan kontinyuitas siaran. Radio yang kadang siaran – kadang tidak, atau acara yang kadang ada – kadang tidak, jelas tidak akan mendapatkan pendengar. Dalam hal ini dibutuhkan komitmen dari sumber daya manusia, terutama penyiar. Untuk kasus yang dihadapi Nurul dalam mengelola murid-murid SMP, ada baiknya diusulkan ke pihak sekolah agar radio komunitas ini bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan ekstra kulikuler sehingga murid-murid memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk siaran karena nantinya akan mempengaruhi nilai.
Sumber : Radio Clinic
Pulsa Gratis??
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment